Friday, June 17, 2016

FESCO 2016


Cerita ini tentang sebuah perjalanan para pejuang budaya Indonesia di Negeri Jiran.


Alkisah berawal dari ketertarikanku mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fakultas Ilmu Budaya dibidang kesenian Aceh, yaitu Rampoe UGM. Pada kesempatan ini aku beserta 17 kawanku diberikan kesempatan yang sangat luar biasa untuk menjalankan sebuah misi Diplomasi Budaya ke Malaysia dalam acara Festival Of Colours Of The World (FESCO) yang diselenggarakan oleh Universiti Teknologi Petronas, Perak-Malaysia pada tanggal 14-17 April 2016. Tim keberangkatan kami berjumlah 20 orang dengan 18 orang adalah penari (13 orang perempuan dan 5 orang laki-laki) dan 2 orang sebagai manager dan official.  

Sebagian besar anggota keberangkatan kami adalah angkatan 7 yang merupakan anggota yang paling baru di keluarga besar Rampoe UGM, oleh karena itu tak banyak gerakan tarian yang telah kami kuasai. Namun, karena tekad dan semangat kami yang sangat luar biasa kami dapat menguasai beberapa tarian salah satunya adalah Tari Meusare-sare dan Tari Tarek Pukat. Tarian ini yang akan kami tampil kan dalam acara festival tersebut. Tak banyak waktu kami untuk mempersiapkan segala macam untuk acara tersebut. Persiapan kami bisa dibilang cukup mendadak dan hectic yakni kurang lebih hanya 3 minggu. Dalam 3 minggu itu pun jadwal kami ada yang berbentrokan dengan Ujian Tengah Semester (UTS). Walapun begitu, hal tersebut tak mengurangi semangat kami layaknya sebuah pepatah "Tidak ada perjuangan yang tidak butuh pengorbanan". Memang benar adanya, segala cara pun kami lakukan agar penampilan kami pun maksimal dan sukses. Waktu kami pun dalam tiga minggu tersebut harus benar-benar dimanage sebaik mungkin terutama mengenai jam belajar, mengerjakan tugas, laporan serta waktu istirahat harus benar-benar diperhatikan. Banyak sekali kegiatan atau agenda kami yang dikorbankan. Dalam misi perjalanan ini tidak mudah bagi kami angkatan yang baru menjadi anggota Diplomasi Budaya. Banyak sekali tekanan yang membuat kami sempat berpikir ulang, namun hal tersebut cepat sirna mengingat komitmen kami di awal yang begitu antusias. Latihan rutin untuk mempersiapkan festival tersebut kami lakukan selama 3 minggu full setiap hari di waktu malam. Lelah, sudah pasti. Jenuh, bisa jadi. Tugas terbengkalai, sudah menjadi resiko dan tanggung jawab pribadi. Sekali lagi, tidak mudah kami melakukan perjalanan ini.

Tibalah kami di ujung perjalanan, hendaknya sebuah bahtera akan berlabuh membawa beban serta penumpang. Panggung mewah nan megah sudah siap menyambut kami, namun hingga blocking di panggung gerakan kami masih terdapat miss. Kami hanya bisa berdo'a, kami hanya bisa berharap, dan kami hanya bisa berusaha, agar ketika kami tampil semua berjalan sesuai dengan rencana. Tuhan, semoga kau dengar dan mengabulkan do'a kami. Kala itu, jarum jam menunjukkan pukul 20.15 waktu setempat. Chancellor Hall pun mulai di padati, riuh penonton dan para penghibur lainnya tak mengurangi semangat kami untuk memberikan penampilan yang terbaik di panggung nanti. Berdebar jantung kami, gelisah akan sebuah kekhawatiran. Bagaimana jika penampilan kami nanti tidak maksimal? Ini perkara memperkenalkan budaya Indonesia di dunia internasional, tolong jangan main-main. 

Ruang transit sudah menunggu kami, tak sabar kami hendak ingin segera melepas kekhawatiran. Musik tari pun sudah mulai diputar, itu tandanya kami segera memasuki panggung. Pada beberapa menit awal penari laki-laki terlebih dahulu menampilkan Tari Meusare-sare, pada pergantian vokal dan nada pada musik tersebut kami, penari perempuan, pun masuk meneruskan tarian tersebut hingga lanjut ke Tari Tarek Pukat. Sambutan yang sangat meriah begitu luar biasa dari para penonton. Benar saja, tidak kita sangka semeriah ini antusias penonton. Wajah kami yang awalnya penuh kecemasan berubah menjadi sumringah bahagia atas seruan yang meriah dari penonton. Senyum kami yang lebar dan natural menandakan kami menari dengan santai dan tidak perlu adanya ke khawatiran lagi. Sesaat ketika memasuki musik Tari Tarek Pukat, kami mengambil pukat yang berada pada ikat pinggang kostum kami dan melilitkannya pada keempat jari tangan kanan serta mengaitkannya ke sebuah lubang ke jempol di tangan kiri. Fungsi dari kaitan ini agar pukat atau tali tidak lepas dan selalu dikontrol. Namun, hal yang tak terduga datang kepadaku. Ternyata, kaitan yang dikaitkan pada jempol tangan kiri yang telah dibuat sebelum penampilan lepas. Aku mencoba untuk tidak panik, aku memikirkan apabila nanti pukat kami tidak berhasil bagaimana? Akankah kami mempermalukan negara kami sendiri? Tentu saja tidak. Masih ada sisa waktu sekitar setengah menit dari permulaan musik tersebut untuk melilitkan tali dan mengaitkan tali tersebut pada jempol tangan kiri. Jelas saja waktu itu tidak banyak dan sangat singkat. Dengan cukup sabar dan tenang aku mencoba untuk tetap tenang dan mengikat tali secara biasa serta mengaitkannya ke jempol tangan kiri, karena memang seharusnya kaitan tersebut berbentuk simpul pangkal. Selanjutnya ketika teman-teman telah selesai melilitkan tali tersebut dan ketika musik hendak masuk pada bagian kami menari aku dengan cepat dan tentunya tetap setenang apapun sesegera mungkin melilitkan tali tersebut pada keempat jari di tangan kanan. Aku hanya bisa berdo'a, dengan caraku menalikan secara biasa taliku ini tidak lepas dan pukat kami berhasil jadi. Got Sei Dank! Tuhan mengabulkan do'aku, serta do'a kawanku semua. Kami berhasil menampilkan yang terbaik. Tidak aku sangka, bahwa para penonton benar-benar memberikan seruan kepada kami yang sangat begitu meriah. Benar-benar meriah, tidak dapat aku jelaskan dengan kata-kata. Memang, bisa dibilang seruan dan tepuk tangan penonton terhadap penampilan kami merupakan seruan dan tepuk tangan yang paling meriah dibandingkan dengan penampilan-penampilan sebelumnya.




 Kami, setelah tampil.

Kami, setelah penampilan bersama LO, Kak Hanor.

Video penampilan kami


Misi kami berhasil, benar-benar berhasil. Terimakasih Tuhan, telah mengabulkan do’aku, do’a kami. Aku sangat bersyukur telah diberikan kesempatan yang begitu luar biasa. Kesempatan yang merupakan misi memperkenalkan budaya kita, Indonesia di dunia internasional. Aku bangga menjadi pemuda Indonesia, yang tidak buta akan budayanya. Salam pejuang budaya!



Cheers,Alviyah Daniati.




Share: