Cerita ini tentang sebuah
perjalanan para pejuang budaya Indonesia di Negeri Jiran.
Alkisah berawal dari ketertarikanku
mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fakultas Ilmu Budaya dibidang kesenian
Aceh, yaitu Rampoe UGM. Pada kesempatan ini aku beserta
17 kawanku diberikan kesempatan yang sangat luar biasa untuk menjalankan sebuah
misi Diplomasi Budaya ke Malaysia dalam acara Festival Of Colours Of The World
(FESCO) yang diselenggarakan oleh Universiti Teknologi Petronas, Perak-Malaysia
pada tanggal 14-17 April 2016. Tim keberangkatan kami berjumlah 20 orang dengan
18 orang adalah penari (13 orang perempuan dan 5 orang laki-laki) dan 2 orang
sebagai manager dan official.
Sebagian besar
anggota keberangkatan kami adalah angkatan 7 yang merupakan anggota yang paling
baru di keluarga besar Rampoe UGM, oleh karena itu tak banyak gerakan tarian
yang telah kami kuasai. Namun, karena tekad dan semangat kami yang sangat luar
biasa kami dapat menguasai beberapa tarian salah satunya adalah Tari
Meusare-sare dan Tari Tarek Pukat. Tarian ini yang akan kami tampil kan dalam
acara festival tersebut. Tak banyak waktu kami untuk mempersiapkan segala macam
untuk acara tersebut. Persiapan kami bisa dibilang cukup mendadak dan hectic yakni kurang lebih hanya 3 minggu. Dalam 3 minggu itu pun jadwal kami ada yang berbentrokan
dengan Ujian Tengah Semester (UTS). Walapun begitu, hal tersebut tak mengurangi
semangat kami layaknya sebuah pepatah "Tidak ada perjuangan
yang tidak butuh pengorbanan". Memang benar adanya, segala cara pun kami lakukan agar
penampilan kami pun maksimal dan sukses. Waktu kami pun dalam tiga minggu
tersebut harus benar-benar dimanage sebaik mungkin terutama mengenai jam belajar,
mengerjakan tugas, laporan serta waktu istirahat harus benar-benar
diperhatikan. Banyak sekali kegiatan atau agenda kami yang dikorbankan. Dalam
misi perjalanan ini tidak mudah bagi kami angkatan yang baru menjadi anggota
Diplomasi Budaya. Banyak sekali tekanan yang membuat kami sempat berpikir ulang,
namun hal tersebut cepat sirna mengingat komitmen kami di awal yang begitu
antusias. Latihan rutin untuk mempersiapkan festival tersebut kami lakukan
selama 3 minggu full setiap hari di waktu malam. Lelah, sudah pasti. Jenuh,
bisa jadi. Tugas terbengkalai, sudah menjadi resiko dan tanggung jawab pribadi.
Sekali lagi, tidak mudah kami melakukan perjalanan ini.
Tibalah kami di
ujung perjalanan, hendaknya sebuah bahtera akan berlabuh membawa beban serta
penumpang. Panggung mewah nan megah sudah siap menyambut kami, namun hingga
blocking di panggung gerakan kami masih terdapat miss. Kami hanya bisa berdo'a, kami hanya bisa berharap, dan kami
hanya bisa berusaha, agar ketika kami tampil semua berjalan sesuai dengan
rencana. Tuhan, semoga kau dengar dan mengabulkan do'a kami. Kala itu, jarum
jam menunjukkan pukul 20.15 waktu setempat. Chancellor Hall pun mulai di padati, riuh penonton dan para
penghibur lainnya tak mengurangi semangat kami untuk memberikan penampilan yang
terbaik di panggung nanti. Berdebar jantung kami, gelisah akan sebuah
kekhawatiran. Bagaimana jika penampilan kami nanti tidak maksimal? Ini perkara
memperkenalkan budaya Indonesia di dunia internasional, tolong jangan
main-main.
Ruang transit sudah menunggu kami,
tak sabar kami hendak ingin segera melepas kekhawatiran. Musik tari pun sudah
mulai diputar, itu tandanya kami segera memasuki panggung. Pada beberapa menit
awal penari laki-laki terlebih dahulu menampilkan Tari Meusare-sare, pada
pergantian vokal dan nada pada musik tersebut kami, penari perempuan, pun masuk
meneruskan tarian tersebut hingga lanjut ke Tari Tarek Pukat. Sambutan yang
sangat meriah begitu luar biasa dari para penonton. Benar saja, tidak kita
sangka semeriah ini antusias penonton. Wajah kami yang awalnya penuh kecemasan berubah
menjadi sumringah bahagia atas seruan yang meriah dari penonton. Senyum kami
yang lebar dan natural menandakan kami menari dengan santai dan tidak perlu
adanya ke khawatiran lagi. Sesaat ketika memasuki musik Tari Tarek Pukat, kami
mengambil pukat yang berada pada ikat pinggang kostum kami dan melilitkannya
pada keempat jari tangan kanan serta mengaitkannya ke sebuah lubang ke jempol
di tangan kiri. Fungsi dari kaitan ini agar pukat atau tali tidak lepas dan
selalu dikontrol. Namun, hal yang tak terduga datang kepadaku. Ternyata, kaitan
yang dikaitkan pada jempol tangan kiri yang telah dibuat sebelum penampilan
lepas. Aku mencoba untuk tidak panik, aku memikirkan apabila nanti pukat kami
tidak berhasil bagaimana? Akankah kami mempermalukan negara kami sendiri? Tentu
saja tidak. Masih ada sisa waktu sekitar setengah menit dari permulaan musik
tersebut untuk melilitkan tali dan mengaitkan tali tersebut pada jempol tangan
kiri. Jelas saja waktu itu tidak banyak dan sangat singkat. Dengan cukup sabar
dan tenang aku mencoba untuk tetap tenang dan mengikat tali secara biasa serta
mengaitkannya ke jempol tangan kiri, karena memang seharusnya kaitan tersebut
berbentuk simpul pangkal. Selanjutnya ketika teman-teman telah selesai
melilitkan tali tersebut dan ketika musik hendak masuk pada bagian kami menari
aku dengan cepat dan tentunya tetap setenang apapun sesegera mungkin melilitkan
tali tersebut pada keempat jari di tangan kanan. Aku hanya bisa berdo'a, dengan
caraku menalikan secara biasa taliku ini tidak lepas dan pukat kami berhasil
jadi. Got Sei Dank! Tuhan mengabulkan do'aku, serta do'a kawanku
semua. Kami berhasil menampilkan yang terbaik. Tidak aku sangka, bahwa para
penonton benar-benar memberikan seruan kepada kami yang sangat begitu meriah.
Benar-benar meriah, tidak dapat aku jelaskan dengan kata-kata. Memang, bisa
dibilang seruan dan tepuk tangan penonton terhadap penampilan kami merupakan
seruan dan tepuk tangan yang paling meriah dibandingkan dengan
penampilan-penampilan sebelumnya.
Kami, setelah tampil.
Kami, setelah penampilan bersama LO, Kak Hanor.
Video penampilan kami
Misi
kami berhasil, benar-benar berhasil. Terimakasih Tuhan, telah mengabulkan
do’aku, do’a kami. Aku sangat bersyukur telah diberikan kesempatan yang begitu
luar biasa. Kesempatan yang merupakan misi memperkenalkan budaya kita,
Indonesia di dunia internasional. Aku bangga menjadi pemuda Indonesia, yang
tidak buta akan budayanya. Salam pejuang budaya!
